Senin, 17 Januari 2011

Gangguan di Tuba Falopi

Tuba falopi atau saluran falopi yang berperan dalam ovulasi dan pembuahan, bisa mengalami sumbatan atau penyempitan. Bila tersumbat, sel telur tak bisa dibuahi sperma atau embrio yang terbentuk tidak dapat masuk ke rahim untuk berkembang. Kondisi ini yang membuat kehamilan sulit terjadi.
Tuba falopi juga disebut oviduct, merupakan sepasang saluran yang berada pada rongga panggul, di antara rahim dan indung telur. Panjang saluran sekitar 7,5-10 cm. Walau terlihat kecil, saluran ini berperan secara integral dalam proses ovulasi dan pembuahan. Tanpa saluran falopi, telur tidak dapat dibuahi dan embrio tidak dapat menjangkau rahim, sehingga mustahil untuk berkembang.

Saluran yang tidak berfungsi dengan baik akan mempersulit proses kehamilan. Dengan kata lain, adanya gangguan pada saluran falopi bisa membuat wanita menghadapi masalah infertilitas (ketidaksuburan). Sebagai gambaran, faktor infertilitas saluran ini berjumlah hampir 25 persen dari seluruh kasus di klinik kesuburan. Dari sebuah situs kesehatan disebutkan sejumlah gangguan dapat terjadi pada saluran falopi. Komplikasi yang sering adalah sumbatan.

Sepertiga Wanita

Sumbatan tersebut bisa disebabkan oleh adanya perlengketan. Perlengketan, dijelaskan Dr. H. Taufik Jamaan, Sp.OG-KFer., dari Klinik Morula RS Bunda, Jakarta, dapat timbul karena infeksi, endometriosis, TBC pada saluran falopi, maupun infeksi saluran vagina. Kondisi itulah yang menyebabkan terjadinya sumbatan pada saluran falopi. Sumbatan ini bisa membuat saluran telur menjadi bengkak, yang dalam istilah medis disebut hydrosalpinx.

Sekitar sepertiga perempuan dari populasi saat ini menunjukkan tanda dan simtom yang mengindikasi masalah yang disebabkan oleh abnormalitas uterin atau saluran falopi. Saluran falopi yang tersumbat atau rusak dapat menurunkan fertilitas (kesuburan) karena menghalangi sperma bertemu dengan sel telur atau menghalangi sel telur masuk ke uterus.

Penyumbatan pada saluran falopi atau disebut juga penyumbatan tubal merupakan komplikasi yang paling sering terjadi. Kadang hanya satu falopi yang tersumbat, tetapi bisa juga sumbatan terjadi pada kedua tuba falopi. Jika kedua saluran falopi ini tersumbat, telur tidak bisa bergerak menuju rahim. Yang akhirnya pembuahan tidak akan terjadi.

Bisa pula terjadi pembuahan, tetapi embrio tidak dapat tertanam di rahim, melainkan di saluran falopi. Keadaan ini yang diistilahkan kehamilan ektopik dan secara umum sering disebut hamil di luar kandungan (rahim). Risiko kehamilan ektopik akan meningkat seiring kejadian infeksi pada saluran falopi.

Kehamilan mungkin terjadi walau dengan satu saluran falopi asalkan tetap memiliki satu atau dua indung telur dan tetap mampu berovulasi. "Kemungkinan kehamilan 50-50 bila terjadi satu sumbatan di salah satu saluran telur yang sehat. Sebaliknya, bila sumbatan terjadi pada kedua saluran, kehamilan tidak bisa terjadi," ujar konsultan fertilitas lulusan Reproductive Medicine Clinic, RS Queen Elizabeth, Adelaide, Australia ini.

Hanya Perlu Satu

Secara umum, satu buah telur dikeluarkan oleh salah satu indung telur setiap bulannya. Sel telur lalu turun ke tuba falopi untuk bertemu sperma dan terjadilah pembuahan. Telur yang sudah dibuahi akan meluncur ke dalam rahim. Hanya satu saluran telur yang diperlukan untuk terjadinya proses ini. Itu sebabnya, bila terjadi sumbatan di salah satu falopi saja, proses ovulasi dan pembuahan bisa terjadi.

Perlengketan yang hebat pada saluran falopi bisa diakibatkan oleh infeksi chlamydia yang merupakan penyakit menular seksual. Infeksi ini dikenal dengan pelvic inflammatory diseases (PID) atau penyakit peradangan panggul.

PID dihubungkan dengan risiko 2-8 kali dari kehamilan ektopik berikutnya. Penelitian lanjutan atas kesuburan perempuan dengan PID yang didokumentasikan secara laparoskopi, yakni dokter secara langsung melihat rahim, saluran falopi, dan rongga panggul, menunjukkan bahwa untuk setiap episode infeksi, setidaknya ada 10 risiko terjadinya ketidaksuburan tubal berikutnya, terlepas dari jenis mikro organisme penyebab infeksi. Efeknya sepertinya menjadi tambahan, dengan risiko infertil tubal dua kali lipat setelah episode kedua PID.

Pengobatan bisa dilakukan untuk mengatasi sumbatan tersebut. Tentunya dengan melihat dari masing-masing penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi, bisa diatasi dengan pemberian obat. Tentu saja dengan konsultasi dari dokter.

Masalah sumbatan juga bisa diatasi melalui bedah laparoskopi. Sebelumnya akan dilakukan histerosalpingogram (HSG). HSG merupakan jenis sinar X yang digunakan untuk menentukan lokasi sumbatan pada falopi. Dalam cara ini akan dimasukkan cairan kontras ke dalam vagina menuju rahim melalui saluran falopi.

Dari situ, dokter bisa melihat sumbatan yang terjadi untuk kemudian dilakukan tindakan. Pembedahan yang dilakukan adalah minimal invasif dengan laparoskopi.

Ditiup Sampai Tiga Kali

Tuba falopi merupakan saluran yang sangat kecil. "Ukurannya mikron," ujar Dr. Ferry Achmad Firdaus Mansoer, Sp.OG, MM. Ukuran yang sangat kecil bisa membuat saluran ini terganggu. Gangguan yang paling sering adalah penyumbatan, yang kebanyakan disebabkan oleh infeksi bakteri.

Infeksi bakteri ini sebenarnya merupakan infeksi rendah. Maksudnya infeksi berada di mulut rahim ke bawah. Namun, bakteri kemudian berkembang biak hingga menjadi infeksi tinggi, yaitu terjadi dari mulut rahim ke atas, ke daerah rahim.

Sumbatan bisa juga terjadi karena kelainan bawaan seperti tidak terbentuknya tuba falopi. Masalah endometriosis juga dapat menyebabkan sumbatan pada saluran telur. Endometriosis, dikatakan spesialis kebidanan dan kandungan di RSUD Pandeglang, Banten ini merupakan tumbuhnya dinding endometrium di tempat yang tidak sebenarnya. Harusnya endometrium tumbuh di lapisan terdalam rahim. Nah, pada endometriosis, endometrium tumbuh di luar.

Adanya infeksi maupun endometriosis ini dapat menyebabkan perlengketan dan pada akhirnya menimbulkan sumbatan, tetapi lokasi terjadinya infeksi ataupun endometriosis berbeda. Infeksi biasanya terjadi di dalam saluran falopi, sedangkan sumbatan akibat endometriosis terjadi karena adanya tekanan dari luar dinding tuba. Endometriosis kadang menimbulkan kista endometriosis yang kemudian mendorong kista ke tuba. Dan sumbatan pun terjadi.

Bila terjadi sumbatan maka bisa dilakukan hidrotubasi. "Istilah awamnya, ditiup," sebut dokter lulusan Universitas Padjadjaran ini. Ditiup yang dimaksud bukan seperti meniup balon. Hidrotubasi dilakukan dengan menyemprotkan cairan ke dalam rongga rahim untuk menekan tuba falopi agar sumbatan terbuka. Yang digunakan biasanya cairan infus atau aqua destilata yang bersifat antibiotika.

Sebelumnya, tambah Dr. Ferry, akan dilakukan HSG atau histerosalpingografi, untuk mengetahui adanya sumbatan pada saluran telur, dengan memasukkan cairan kontras ke dalam rongga rahim melalui vagina. Lalu dilakukan foto rontgen, sehingga akan terlihat apakah zat tersebut masuk ke saluran falopi atau tidak. Bila zat kontras tidak dapat masuk ke saluran telur, berarti terjadi penyumbatan.

Metode hidrotubasi sampai saat ini masih dilakukan. Hanya saja, teknik ini dipakai untuk mengatasi penyumbatan ringan. Pun tidak sekali tiup lantas sumbatan bisa terbuka. Dikatakan Dr. Ferry, hidrotubasi dapat dilakukan beberapa kali. "Biasanya tiga kali, sekali hidrotubasi dalam setiap bulannya dan dilakukan setelah menstruasi," tuturnya.

Sejalan dengan hidrotubasi, biasanya dokter akan memberikan terapi obat antibiotika untuk mengatasi infeksi. Tentu saja pemberian obat tersebut berdasarkan infeksi yang terjadi.

Bila penyumbatan diduga karena endometriosis, bisa dilakukan bedah laparoskopi. Bedah invasif minimal ini dilakukan untuk melihat stadium dari endometriosis. Stadium 1 dan 2 dikategorikan ringan, 2 dan 3 stadium sedang, dan stadium 3 dan 4 termasuk berat yang membuat sulit memiliki anak. Stadium ini diperlukan untuk menentukan terapi. "Karena masing-masing stadium berbeda terapinya," katanya.

Sejauh ini bedah laparoskopi hanya untuk melihat stadium endometriosis, walau 20 persennya bisa untuk mengatasi perlengketan. "Melepaskan perlengketan dari organ-organ kandungan terhadap organ sekitarnya," tambahnya.

Akibat Infeksi di Panggul

Saluran falopi memegang peran penting dalam hal pembuahan dan kehamilan. Saluran sepanjang kira-kira 10 cm ini merupakan jalan bagi sel telur dari indung telur untuk bertemu sperma atau melaju ke arah rahim. Di ujung saluran falopi yang dekat dengan indung telur (fimbriae) bertugas menangkap telur yang sudah matang lalu melepaskannya ke arah rahim melewati saluran falopi.

Sel telur dan sperma bertemu di separuh luar saluran falopi dan setelah terjadi pembuahan embrio akan meluncur ke dalam rahim. Namun, sebelum benar-benar masuk ke rahim embrio ini akan ditahan dulu di ujung saluran falopi yang dekat rahim untuk dimatangkan, sehingga slap ditanam di rahim. Proses ini memakan waktu 4-7 hari setelah ovulasi.

Falopi adalah saluran yang sangat rumit. Dindingnya dilapisi rambut-rambut sangat halus (cilia) yang terus bergerak mendorong telur dan embrio di sepanjang saluran. Lapisan itu juga memproduksi cairan yang memberi gizi bagi telur dan embrio selama berada di saluran falopi.

Kondisi falopi yang abnormal menempati porsi 25-50 persen pada keseluruhan kasus gangguan kesuburan pada perempuan. Infeksi di daerah panggul bisa menyebabkan terjadinya kerusakan pada saluran falopi. Infeksi panggul umumnya disebabkan oleh:

    * Penyakit menular seksual.
    * Infeksi setelah melahirkan.
    * Aborsi (keguguran).
    * Pemasangan alat kontrasepsi, misalnya IUD (intrauterine device).
    * Infeksi setelah menjalani pembedahan di daerah panggul, misalnya operasi kista indung telur dan usus buntu.
    * Endometriosis yang parah.
    * Tuberkulosis.


Selain membuat saluran falopi tersumbat, penyakit peradangan panggul juga bisa menyebabkan timbulnya alur bekas luka yang dapat memengaruhi fungsi falopi. Kasus TBC panggul banyak terjadi di India dan menyebabkan kerusakan tubal. Ini merupakan silent disease, sehingga kebanyakan perempuan yang menderita gangguan ini tidak menyadarinya. Bakteri TBC dari paru-paru akan mencapai daerah panggul melalui aliran darah dan mengakibatkan kerusakan tubal yang sangat sulit diperbaiki.

Kemungkinan Hamil Berkurang

Tindakan operasi bisa dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada saluran falopi yang menyebabkan ketidaksuburan. Jenis operasi untuk kasus ini ada beragam tergantung lokasi dan luas sumbatan. Saat ini prosedur laparoskopi atau bedah minimal invasif bisa diterapkan untuk berbagai kasus ginekologi, termasuk sumbatan saluran falopi. Tentu saja tindakan ini harus dilakukan oleh ahli bedah yang sudah terlatih melakukan laparoskopi.

Berbagai tindakan ini sering dilakukan untuk mengoreksi gangguan tuba falopi:

1. Tubal Reanatomosis
Diterapkan untuk memperbaiki sebagian saluran falopi yang rusak akibat penyakit. Jadi bagian yang rusak itu diangkat, kemudian dua ujung saluran yang masih sehat disambung kembali. Prosedur ini umumnya dilakukan dengan pembedahan abdomen (laparotomi).

2. Salpingostomi
Dilakukan bila ujung saluran falopi tersumbat oleh sebab bertambahnya cairan (hydrosalpinx), sehingga jalan menuju indung telur akan terbuka. Namun, tindakan ini kadang menimbulkan jejak luka pada jaringan, sehingga berisiko terjadi sumbatan kembali.

3. Fimbrioplasti
Apabila ada bagian falopi yang menuju indung telur tertutup atau terdapat bekas luka, sehingga menghambat penangkapan telur, bisa diatasi dengan fimbrioplasti.

4. Selective Tubal Cannulation
Ini pilihan tindakan untuk sumbatan yang terjadi pada saluran falopi di dekat rahim. Dokter akan memasukkan kateter atau kanula melalui mulut rahim, kemudian memasukkan tuba falopi.

Keberhasilan tindakan pada tuba falopi tergantung pada lokasi dan luasnya sumbatan, juga ada tidaknya masalah kesuburan yang lain.

- Membuka sumbatan pada saluran yang berada di dekat rahim biasanya lebih banyak tingkat keberhasilannya karena sumbatan ini seringkali bersifat fungsional, bukan struktur salurannya yang bermasalah. Lebih dari 60 persen perempuan yang mengalami hal ini dilaporkan berhasil hamil setelah menjalani operasi.

- Sekitar 20-30 persen perempuan yang mengalami sumbatan di ujung falopi bisa hamil setelah menjalani operasi.

- Setelah menjalani operasi pada saluran falopi, fungsi organ ini memang bisa berkurang, apalagi jika sebagian besar bagian falopi harus diangkat. Karena itu, kemungkinan untuk hamil juga bakal berkurang.
 
 
 
sumber : http://www.susukolostrum.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1113

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar