Rabu, 29 Juni 2011

KESUBURAN (FERTILITAS)

Definisi

  1. Fertilitas
    Kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil oleh dan melahirkan bayi hidup dari suami yang mampu menghamilinya.
  2. Infertilitas
    Kemampuan reproduksi terganggu, artinya meski pun dapat terjadi pembuahan, tetapi kehamilan yang terjadi terganggu dalam perjalanannya dan berakhir dengan keguguran atau lahirnya bayi yang mati.
  3. Pasangan infertil
    Pasangan suami-istri yang meski dengan sanggama teratur tanpa pemakaian kontrasepsi, dalam masa 12 bulan berturut-turut tak menghasilkan kehamilan dan/atau melahirkan bayi hidup.
Penyebab ketidaksuburan (infertilitas)
Penyebab infertilitas dapat berasal dari pihak istri maupun suami atau kedua-duanya. Kurang lebih 50% infertilitas disebabkan dari pihak istri, 40% dari pihak suami dan 10% tidak terjelaskan (infertilitas idiopatik). Penyebab infertilitas dari pihak istri biasanya adalah : tuba Falloppii tidak normal, ovulasi tidak normal, adanya endometriosis, organ-organ reproduksi tidak normal (vagina, serviks, korpus atau endometrium ), masalah imunologi dan psikologi. Sedangkan penyebab pada pihak suami biasanya adalah jumlah dan mutu sperma yang tidak normal serta masalah psikologi.
Infertilitas dapat disebabkan oleh :
  1. Gangguan pada hubungan seksual , dapat berupa kesalahan teknik sanggama yang menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
  2. Gangguan pada pria .
    Jumlah spermatozoa dan transportasinya yang abnormal
    • Jumlah sperma kurang < 20 juta (oligozoospermia), gerak spermatozoa lemah dan lambat (astenozoospermia), atau bentuk spermatozoa abnormal (teratozoospermia ), volume sperma < 2 ml, kandungan fruktosanya < 1.200 mg/ml.
    • Varikokel
    • Getah serviks sedikit jumlah
    • Ejakulasi membalik (retrogad )
    • Hormon abnormal
  3. Gangguan ovulasi dan hormonal lain .
    Pembuahan tidak akan terjadi bila istri tidak menghasilkan sel telur (ovum) yang dapat dibuahi. Kegagalan ovulasi dapat bersifat primer yang berasal dari ovarium seperti penyakit ovarium polikistik, atau bersifat sekunder akibat kelainan pada poros hipotalamus-hipofisis.
    • Gangguan ovulasi hipotalamik
      Kegagalan hipotalamus untuk memicu ovulasi adalah masalah gangguan ovulasi yang paling sering terjadi. Gejala-gejala klinisnya adalah amenorea atau oligomenorea, SBB abnormal, kadar LH dan FSH rendah.
    • Penyakit ovarium polikistik
      Gejalanya adalah dilihat dari gambaran USG ovarium membesar dengan banyak kista, peneraan kadar hormon FSH yang rendah, nisbah LH/FSH 2:1 atau 3:1 dan kadangkala dengan peningkatan kadar prolaktin.
    • Hiperprolaktinemiaatau peningkatan kadar prolaktin serum dapat menyebabkan galaktorea dan mengganggu fungsi ovulasi.
    • Hiperandrogenemia dengan gejala klinis peningkatan kadar androgen serum, virilisasi, hirsutisme, gangguan haid.
    • Gangguan ovarium dini. Ovarium menghasilkan sel telur yang tidak matang.
    • Gangguan fase luteal. Ovulasi terjadi secara normal tetapi ovarium tidak menghasilkan progesteron yang memadai untuk implantasi
    • Pemecahan kantong telur (folikel) dini sehingga menghasilkan sel telur yang tidak matang
    • Sindrom kantong telur matang tak pecah sehingga sel telur tidak dapat dikeluarkan dari kantong telur matang.
  4. Endometriosis
    Terutama pada endometriosis derajat sedang dan berat dapat mengganggu fertilitas.
  5. Infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes simpleks, klamidia, mikoplasma)
  6. Kelainan pada tempat implantasi: uterus dan endometrium. Bentuk uterus abnormal, miom (tumor jinak) rahim, kerusakan serviks, kelainan kongenital, endometriosis, dan perlekatan uterus.
  7. Kelainan pada saluran telur (tuba Falloppii)
    Hipoplasia kongenital, penempelan fimbria (ujung saluran telur), hambatan tuba karena salpingitis atau peritonitis pelvis, appendisitis, sterilisasi tuba, tuba spasme.
  8. Gangguan peritoneum
    Gangguan imunitas, adanya zat anti terhadap spermatozoa.
Pemeriksaan ketidaksuburan (infertilitas)
Pada tahap awal sebaiknya pasutri memeriksakan diri secara bersama-sama, kemudian pemeriksaan suami dan istri dilakukan terpisah. Tahapan pemeriksaan adalah :
I. Tahap wawancara
Tahap awal merupakan wawancara untuk pengumpulan data-data pasien tentang jatidiri, riwayat kesehatan, riwayat perkawinan terdahulu dan sekarang, riwayat infertilitas, riwayat hubungan seksual, dan riwayat reproduksi.
II. Tahap pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik baik suami maupun istri meliputi :
  1. Keadaan fisik secara umum, seperti tinggi, berat, sebaran rambut, dll.
  2. Keadaan alat-alat reproduksi, seperti testis, vagina, klitoris, rahim, dll.
III.Tahap pemeriksaan laboratorium
  1. Pria Analisis sperma untuk mengetahui mutu air mani dan spermatozoanya, meliputi jumlah sperma/ml, bentuk, gerakan, jumlah dan persentase yang hidup serta pencairan air mani.
  2. Wanita
    • Pemantauan ovulasi, untuk menentukan apakah ovarium menghasilkan sel telur yang matang. Pemantauan ovulasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara :
      1. Riwayat siklus haid: siklus haid yang teratur dan normal, nyeri per-tengahan siklus, perdarahan atau peningkatan luah atau cairan va-gina (vaginal discharge), mastalgia prahaid menandakan ovulasi telah terjadi.
      2. Uji pakis: pemeriksaan pada hari ke-23-28 siklus haid, istri diminta datang untuk pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks ke-mudian dikeringkan pada gelas objek dan diperiksa pengaruh estro-gen. Jika tidak terdapat pola daun pakis dan kristal getah serviks berarti ovulasi telah terjadi.
      3. Suhu Basal Badan (SBB): SBB diperiksa setiap bangun pagi hari se-belum melakukan aktivitas apapun. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika wanita berovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik dengan tukik pada pertengahan siklus.
      4. Sitologi vagina atau sitologi endoserviks: memantau perubahan pada sel-sel yang tereksfoliasi selama fase luteal (pengaruh progesteron).
      5. Biopsi endometrium (mikrokuretase): dapat dilakukan secara poliklinis dengan pembiusan ringan atau tanpa pembiusan. Dengan memakai kuret kecil. Dilakukan pada 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
      6. Laparoskopi diagnostik : melihat secara langsung adanya bintik ovu-lasi atau korpus luteum sebagai hasil ovulasi.
      7. Peneraan hormon: menentukan kadar hormon dalam darah, urin mau-pun liur (saliva). Kadar normal dalam satu siklus :
Jenis hormon Fase siklus haid Satuan Praovulasi Ovulasi Pasca ovulasi FSH mUI/ml 5-20 15-45 5-12 LH mUI/ml 5-15 30-40 5-15 PRL ng/ml - 5-25 - E2 pg/ml 25-75 200-600 100-300 P ng/ml <5 5-8 10-30


      1. Histeroskopi: dapat memperlihatkan lukisan endometrium yang bening kekuningan, yang sesuai dengan fase luteal.
      2. Ultrasonografi: dapat memantau perkembangan folikel dan menentukan saat ovulasi. Pemeriksaan dilakukan secara serial.
    • Penilaian rahim dan saluran telur dapat dilakukan dengan beberapa cara :
      1. Biopsi endometrium: selain untuk penilaian ovulasi, juga dapat untuk pemeriksaan histologik lain, misalnya biakan terhadap tuberkulosis, menilai adanya hiperplasia endometrium. Terkadang dijumpai adanya hiperplasia fokal meskipun siklus berovulasi berdasarkan peneraan homon P plasma pada pertengahan fase luteal. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksan rasio P/E2 dan PRL/E2 bersamaan dengan biopsi endometrium.
      2. Uji insuflasi/pertubasi: CO2 ditiupkan melalui kanal serviks dan dibuat rekaman kymograf terhadap tekanan uterus, perubahan tekanan ber-arti tuba Falloppii paten. Gas ini juga dapat didengar dengan stesto-skop atau dilihat dengan sinar X.
      3. Hidrotubasi: prinsipnya sama dengan pertubasi hanya yang diguna-kan adalah cairan yang mengandung antibiotika Kanamycin 1 gram, deksametason 5 mg dan antipasmodik cair.
      4. Histerosalpingogram: dilakukan pada paro-pertama siklus haid, laru-tan radioopak disuntikkan melalui kanal serviks ke dalam rahim dan saluran telur. Perjalanan larutan tersebut dipantau di layar dengan penguat bayangan.
      5. Histeroskopi : melihat secara langsung keadaan permukaan endome-trium.
      6. Laparoskopi : melihat secara langsung dan menguji patensinya de-ngan menyuntikkan larutan biru metilen atau indigokarmin, dan de-ngan melihat pelimpahannya ke dalam rongga peritoneal. Laparoskopi juga dapat memperlihatkan perlekatan pelvis, endometriosis, dan patologi ovarium tetapi tidak dapat menggambarkan keadaan rongga uterus.
      7. Ultrasonografi atau endosonografi: menilai bentuk, ukuran, serta patologi uterus maupun tebal endometrium.
    • Analisis infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes sim-pleks, klamidia, mikoplasma).
    • Uji pasca-sanggama (UPS) untuk melihat apakah air mani sudah memancar dengan baik ke puncak vagina selama sanggama. UPS dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi. Pasien diminta datang 2-8 jam setelah sangga-ma normal. Getah serviks diisap dari kanal endoserviks dan diperiksa de-ngan mikroskop, jika terdapat 20 spermatozoa per lapang pandang besar (LPB= x400) maka kemungkinan hamil cukup besar, antara 1-20 spermatozoa per LPB sudah memuaskan.
    1. Histeroskopi atau teropong rongga rahim
    2. Laparoskopi atau teropong rongga perut
    3. Tuboskopi/Falloposkopi atau teropong rongga salutan telur
    4. Hidrolaparoskopi atau teropong rongga panggul disertai penggenangan cairan
  • IV. Pemeriksaan Lanjutan Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan alat teleskop (teropong) yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh melalui saluran alami (kanal serviks: pada histeroskopi; kanal servik-rongga rahim, mulut saluran telur: pada tuboskopi/Falloposkopi), suatu pembedahan kecil (di daerah pusar atau umbilikus: pada laparoskopi; di puncak cekungan vagina belakang atau forniks posterior: pada hidrolaparoskopi). Ada 4 (empat) macam endoskopi dalam bidang ginekologi: Histeroskopi digunakan untuk melihat keadaan saluran mulut rahim, rongga rahim, mulut dalam saluran telur, besarnya rongga rahim, warna atau kejernihan selaput rahim, untuk membedakan polip endometrium dan leiomiom submukosum; untuk memastikan perlekatan dalam rahim dan kelainan bawaan dalam rahim; untuk me-ngenali kelainan-kelainan pada histerogram; serta untuk penatalaksanaan operasi pada sekat rahim yang menyebabkan keguguran berulang. Laparoskopi digunakan untuk melihat berbagai kelainan di dalam rongga panggul (pelvis) atau rongga perut (abdomen) misalnya kista (tumor) indung telur (ova-rium), tumor rahim (miom uterus), perlekatan di rongga panggul akibat infeksi atau endometriosis, bintil-bintil (lesi) endometriosis yang tidak terlihat dengan alat ultrasonografi, pembengkakan saluran telur (hidrosalpinks), dan juga bebe-rapa kelainan bawaan rahim seperti rahim dua-tanduk (uterus bikornis) atau tiadanya indung telur (agenesis ovarii). Tuboskopi atau Falloposkopi digunakan untuk melihat bagian dalam saluran telur, baik permukaannya maupun rongganya, misalnya adakah perlekatan akibat infeksi, penyempitan bawaan, dan hilangnya bulu getar (silia) selaput lendir (mu-kosa) saluran telur. Hidrolaparoskopi merupakan suatu teknik mutakhir untuk melihat suatu gangguan fungsi dan anatomik ujung saluran telur atau cekungan di belakang rahim (kavum Douglas), misalnya perlekatan ujung saluran telur (fimbria), endometriosis, miom uterus subserum di bagian belakang rahim atau kista ovarium. Pemeriksaan endoskopi tidak dilakukan begitu saja pada semua wanita, melainkan harus dengan dasar yang jelas, misalnya pada wanita infertil yang telah melaku-kan pemeriksaan infertilitas dasar sebelumnya tetapi belum diketahui penyebab infertilnya, dan pada wanita yang diduga adanya endometriosis, miom, tumor atau kanker rahim. Pengobatan ketidaksuburan (infertilitas) Sekitar 50% pasangan infertil dapat berhasil hamil. Hal ini memberikan rasa optimistik baik bagi dokter maupun pasiennya. Tindakan-tindakan diagnostik seringkali pula merupakan rangsangan pengobatan, misalnya pemeriksaan vaginal dan sondase uterus dapat menaikkan laju kehamilan sebesar 10-15%. Uji patensi tuba bersama dengan dilatasi dan kuretase ternyata dapat menggandakan laju pembuahan. Setiap kelainan yang ditemui selama pemeriksaan selalu perlu diobati. Beberapa jenis pengobatan berdasarkan sebab-sebab infertilitas dapat dilihat sebagai berikut:

Penyebab infertilitas Jenis pengobatan Suami Hidrokel Aspirasi atau eksisi Varikokel Ligasi Bendungan vasa atau epididimis Operasi pintas Oligozoospermia FSH dan hCG, FIV dengan SSIS Gangguan spermatogenesis Hindari berendam air panas dan pemakaian celana ketat Istri Tuberkulosis Tuberkulostatika Endometriosis Operasi, koagulasi listrik atau laser, progesteron, danazol, medroksiprogesteron asetat, dehidroretroprogesteron, antiprogestin, anastrosol Miom uterus operabel Operasi konservatif Spasme tuba Hiosin amilnitrit, triemonium Obstruksi tuba Operasi rekonstruksi, FIV Gangguan ovulasi Pemicuan ovulasi (klomifen sitrat, epimestrol, tamoksifen, siklofenil, metformin, pioglutazon, hMG/hCG, FSH-murni, GnRH); pelubangan (drilling) ovarium Keduanya Idiopatik Inseminasi buatan, TAGIT, TAPIT, TAZIT, FIV, SSIS, Adopsi

Pengobatan rekayasa reproduksi
Apabila setelah pemeriksaan dan pengobatan infertilitas masih belum berhasil juga. Pasangan infertil bisa mengambil jalan adopsi atau melakukan rekayasa reproduksi yang merupakan pemecahan terakhir dari penanganan pasangan infertil. Beberapa macam rekayasa reproduksi adalah :
  1. Inseminasi buatan: penaburan spermatozoa suami ke dalam saluran reproduksi istri. Ada 5 macam inseminasi yaitu:
    1. Inseminasi intravaginal: spermatozoa disebarkan ke dalam liang vagina.
    2. Inseminasi paraservikal: spermatozoa ditaburkan ke dalam puncak kubah vagina yang disebut forniks. Bagian ini mengelilingi leher rahim sehingga sangat dekat dengan mulut luar rahim (ostium uteri eksternum).
    3. Inseminasi intraservikal: spermatozoa dimasukkan melalui mulut luar rahim dan ditempatkan di saluran leher rahim (kanal serviks).
    4. Inseminasi intrauterin: spermatozoa yang sudah terpilih dan tersaring dimasukkan melalui mulut luar rahim dan ditempatkan jauh ke dalam, sehingga berada di dalam rongga rahim dekat dengan mulut dalam saluran telur (ostium tuba internum).
    5. Inseminasi intraperitoneal: spermatozoa yang sudah terpilih dan tersaring dimasukkan melalui tembusan di puncak kubah vagina langsung ke dalam rongga perut (rongga peritoneum).
  2. Tandur-alih gamet intra-tuba (TAGIT), yaitu pemindahan benih (sel telur dan spermatozoa) ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
  3. Tandur-alih pronuklei intra-tuba (TAPIT), yaitu pembuahan di luar tubuh (ekstrakorporal) dengan pemindahan pronuklei ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
  4. Tandur-alih zigot intra-tuba (TAZIT), yaitu pembuahan di luar tubuh dengan pemindahan hasil pembuahan (zigot) ke dalam saluran telur melalui laparoskopi.
  5. Fertilisasi in vitro (FIV) atau bayi tabung, yaitu pembuahan di luar tubuh dengan penandur-alihan embrio ke selaput permukaan dalam rongga rahim dengan bantuan kanula kecil melalui saluran leher rahim


-------------
sumber : http://kesehatanwanita.blog.com/tag/infertilitas/

INFERTIL TIDAK SAMA DENGAN MANDUL

Pengertian mandul bagi wanita ialah tidak mampu hamil karena indung telur mengalami kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel telur. Sementara, arti mandul bagi pria ialah tidak mampu menghasilkan kehamilan karena buah pelir tidak dapat memproduksi sel spermatozoa sama sekali.
Baik pria maupun wanita yang mandul tetap mempunyai fungsi seksual yang normal. Tetapi sebagian orang yang mengetahui dirinya mandul kemudian mengalami gangguan fungsi seksual sebagai akibat hambatan psikis karena menyadari kekurangan yang dialaminya.
Tetapi istilah mandul seringkali digunakan untuk menyebut pasangan suami istri yang belum mempunyai anak walaupun telah lama menikah. Padahal pasangan suami istri yang belum mempunyai anak setelah lama menikah tidak selalu mengalami kemandulan. Yang lebih banyak terjadi adalah pasangan yang infertil atau pasangan yang tidak subur.

Apakah kemandulan dapat diatasi?
Kemandulan tidak dapat diatasi dengan cara apapun. Masalahnya, gangguan yang terjadi berupa kerusakan yang permanen pada buah pelir atau indung telur sehingga masing-masing tidak dapat memproduksi sel spermatozoa atau sel telur. Jadi baik pria maupun wanita yang mengalami kerusakan permanen pada buah pelir atau indung telurnya tidak perlu lagi berupaya mencari pengobatan atau jalan keluar lainnya karena pasti tidak akan berhasil.
Satu hal yang mutlak harus diperhatikan ialah apakah masalah yang terjadi suatu kemandulan ataukah infertilitas (gangguan kesuburan). Kemandulan tidak sama dengan infertilitas (gangguan kesuburan), tetapi kedua istilah ini sering dikacaukan. seringkali pasangan disebut mandul padahal sebenarnya tidak subur (infertil).

Apa yang dimaksud dengan pasangan infertil atau tidak subur?
Dalam keadaan normal dan tanpa menggunakan kontrasepsi, kehamilan terjadi pada 60 % pasangan suami istri dalam waktu 6 bulan, pada 80 % pasangan dalam waktu 9 bulan dan pada sekitar 90 % pasangan suami istri dalam waktu 1 tahun.
Pasangan suami istri yang telah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi selama satu tahun tetapi belum mampu hamil dan melahirkan anak hidup disebut pasangan infertil atau pasangan tidak subur. Berarti pasangan tersebut mengalami masalah infertilitas (ketidaksuburan).
Pada pasangan infertil, pihak suami masih mempunyai sel spermatozoa tetapi tidak dalam parameter normal karena mengalami suatu gangguan. Di pihak lain, pihak istri masih mempunyai sel telur tetapi mengalami gangguan, misalnya dalam perjalanan untuk masuk ke dalam rahim melalui saluran telur.
Dengan pengertian ini jelaslah perbedaan antara pasangan infertil dengan pasangan mandul. Di masyarakat, tampaknya lebih banyak pasangan infertil dibandingkan dengan pasangan yang benar-benar mandul. Tetapi istilah mandul lebih sering digunakan di masyarakat walaupun yang dimaksud adalah gangguan kesuburan.

Penyebab infertilitas
Banyak faktor yang menjadi penyebab infertilitas sehingga pasangan suami istri tidak mempunyai anak, antara lain:
  • Faktor hubungan seksual, yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin terlalu sering atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu disfungsi ereksi, ejakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi retrograde (ejakulasi ke arah kandung kencing), dan gangguan fungsi seksual wanita yaitu dispareunia (sakit saat hubungan seksual) dan vaginismus.
  • Faktor infeksi, berupa infeksi pada sistem seksual dan reproduksi pria maupun wanita, misalnva infeksi pada buah pelir dan infeksi pada rahim.
  • Faktor hormon, berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun wanita sehingga pembentukan sel spermatozoa dan sel telur terganggu.
  • Faktor fisik, berupa benturan atau temperatur atau tekanan pada buah pelir sehingga proses produksi spermatozoa terganggu.
  • Fakror psikis, misalnya stress yang berat sehingga mengganggu pembentukan set spermatozoa dan sel telur.
Untuk menghindari terjadinya gangguan kesuburan pada pria maupun wanita, maka faktor-faktor penyebab tersebut tersebut harus dihindari. Tetapi kalau gangguan kesuburan telah terjadi, diperlukan pemeriksaan yang baik sebelum dapat ditentukan langkah pengobatannya.

Apakah infertilitas dapat diatasi?
Masalah infertilitas sebenarnya adalah masalah gangguan kesuburan pasangan. Gangguan kesuburan mungkin dapat diatasi, mungkin juga tidak dapat diatasi. Hal itu sangat tergantung kepada penyebabnya dan sejauh mana kesuburan telah terganggu.
Berbagai cara dan pengobatan telah tersedia untuk mengatasi gangguan kesuburan, tetapi tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, infertilitas yang disebabkan karena penyumbatan saluran telur. Cara yang ada untuk membuka kembali saluran telur yang tersumbat ternyata tidak memberikan hasil yang baik. Contoh lain, pengobatan gangguan sperma, mungkin memberikan hasil yang baik, mungkin juga tidak. Pengobatan gangguan sperma yang disebabkan karena infeksi pada buah pelir, pada umumnya tidak memuaskan.
Itu berarti tidak semua pasangan infertil dapat mengatasi masalahnya dan dapat mempunyai anak. Karena itu, pada keadaan di mana gangguan kesuburan tidak dapat diatasi, dilakukan cara lain yang merupakan cara pintas. Cara pintas ini tidak lagi bertujuan memperbaiki gangguan kesuburan, melainkan langsung ke tujuan akhir, yaitu menghasilkan kehamilan.
Cara pintas yang tersedia ialah inseminasi buatan dengan menggunakan sperma suami dan tehnik “bayi tabung”. Inseminasi buatan dengan sperma suami dilakukan bila terjadi gangguan kualitas dan kuantitas sperma, gangguan dalam melakukan hubungan seksual sehingga sperma tidak dapat masuk ke vagina, dan gangguan mulut rahim sehingga sel spermatozoa gagal masuk ke dalam rahim.
Cara mendapatkan kehamilan dengan menggunakan tehnik “bayi tabung” telah dikembangkan sejak tahun 1970 oleh dokter Patrick Steptoe dan Prof. Robert Edwards. Delapan tahun kemudian hasil teknologi itu telah menghasilkan seorang bayi wanita. Dalam perkembangannya beberapa cara tehnik “bayi tabung” telah dilakukan, mulai dari GIFT (Gamete Intra-Fallopian Transfer), ZIFT (Zygote Intra-Fallopian Transfer), IVF-ET (In-Vitro Fertilization-Embryo Transfer), sampai ke ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection).
Tehnik “bayi tabung” dilakukan bila terjadi gangguan sperma dan gangguan sistem reproduksj wanita yang menghambat pertemuan sel spermatozoa dengan sel telur. Dengan tehnik ini, sel spermatozoa dan sel telur dipertemukan di luar tubuh wanita. Setelah hasil pertemuan itu berkembang, kemudian dimasukkan ke dalam rahim dan berkembang seperti kehamilan normal. Tetapi berbagai cara “bayi tabung” yang ada sampai saat ini, tetap tidak menjamin kehamilan pasti berhasil.
Di masyarakat muncul anggapan salah, seolah-olah tehnik “bayi tabung” adalah segalanya. Seolah-olah dengan cara ini pasangan infertil pasti dapat menjadi hamil dan mempunyai anak. Padahal ternyata tidak demikian. Keberhasilan tehnik “bayi tabung” dengan cara yang paling mutakhir dan di negara maju sekalipun, masih tergolong rendah sementara biaya yang diperlukan sangat tinggi.





-------------------------
sumber : http://kesehatanwanita.blog.com/tag/infertilitas/

Rabu, 25 Mei 2011

Kadar Hormon Wanita dan Inteprestasinya

Kadar hormon diperiksa untuk menentukan apa yang terjadi di dalam tubuh wanita. Kadar hormon dapat menunjukkan jika seorang wanita subur, akan menopause dini atau dalam masa perimenopause. Karena kadar hormon mempunyai kecenderungan untuk berfluktuasi, maka pemeriksaan harus dilakukan pada saat yang tepat.

Hormon2 yang diperiksa untuk tujuan diatas antara lain : Follicle Stimulating Hormone (FSH), Estradiol (E2), Luteinizing Hormone (LH), Prolactin, Progesterone (P4) dan Thyroid Stimulating Hormone (TSH)dan lain-lain.

FSH
Nilai normalnya: 3-20 mIU/ml.
FSH sering digunakan sebagai alat ukur cadangan ovarium. Secara umum, hasil di bawah 6 adalah sangat baik, 6-9 adalah baik, 9-10 rata2, 10-13 kurang cadangan, 13 lebih sangat sulit untuk dirangsang (ovulasi). Dalam pengujian PCOS (SOPK), perbandingan LH dan FSH (LH-FSH rasio) dapat digunakan untuk diagnosis. Rasio normal biasanya lebih kurang 1:1, tapi kalau LH lebih tinggi, ini adalah salah satu indikasi kemungkinan PCOS.

LH
Nilai normalnya: < 7 mIU/ml
Kadar LH normal lebih kurang sama dengan FSH. Jika kadarnya LH lebih tinggi dari FSH merupakan salah satu indikasi adanya PCOS.

Estradiol (E2)
Nilai normalnya: 25-75 pg/ml
Kadar batas terendah cenderung lebih baik untuk dilakukan rangsangsan ovulasi. Normal tinggi di hari 3 mungkin menunjukkan adanya kista fungsional atau berkurangnya cadangan ovarium (folikel).

Prolaktin
Nilai normalnya: < 24 ng/ml
Peningkatan kadar prolaktin dapat mengganggu ovulasi. Juga dibutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan MRI untuk memeriksa kemungkinan adanya tumor hipofise. Beberapa wanita dengan PCOS/SOPK juga mengalami peningkatan kadar hormon prolaktin (hyper-prolaktinemia).

Progesterone (P4)
Nilai normalnya: < 1.5 ng/ml
Sering disebut kadar fase folikuler. Kadar hormon yang tinggi mungkin akan menurunkan angka lemungkinan untuk hamilan. Sedangkan jika kadarnya rendah makabisa mengkonsumsi suplemen alami seperti FertilAid (bukan pesan sponsor ...)

Thyroid Stimulating Hormone (TSH)

Nilai normalnya:0,4-4 uIU/ml
Nilai tengah normal di sebagian besar laboratorium adalah sekitar 1,7uIU/ml. Kadar yang tinggi dikombinasikan dengan TSH yang rendah atau tingkat T4 normal secara umum menunjukkan suatu keadaan hipotiroidisme, yang dapat berpengaruh pada kesuburan.


Sumber: Cem-Macem; http://www.drdidispog.com/2010/02/kadar-hormon-wanita-dan-inteprestasinya.html

Selasa, 03 Mei 2011

VARIKOKEL - Varises buah pelir

Varises ini bisa terjadi disembarang tempat dan bisa terjadi pada pria maupun wanita. Misalya bisa timbul di betis, dubur, kerongkongan dan daerah kemaluan. Tergantuing lokasinya, varises mempunyai istilah sendiri-sendiri.
Varikokel adalah varises yang terjadi didaerah sekitar buah pelir. Biasanya ia ditemukan secara tidak sengaja. Varikokel akan mengganggu fungsi testis (buah pelir) sebagai prabrik sperma, baik dari segi jumlah, maupun dari segi kualitas produksinya, sehingga varikokel sering diikuti gangguan fertilitas (kesuburan).
Menurut seorang ahli, motilitas spermatozoa yang kurang itu dapat ditemukan pada 90% pria dengan varikokel, walaupun hormone kelaminnya normal.

                             gambar 1 : Varikokel pada buah zakar

FAKTOR PENYEBAB
-          Faktor genetic (keturunan)
Varikokel-atau jenis varises yang lain-yang terdapat pada orang tua cendrung menurun kepada anak, karena sejak lahir anak-anak ini mewarisi pembukuh darah yang mudah melebar.
Ada contoh menarik: yaitu orang tua dengan hemoroid (istilah varises di daerah dubur, ambient/wasir), ternyata anaknya menderita varises hebat dibetis dan organ reproduksinya. Jadi tidak harus sama-sama varikokel.
-          Makanan
Beberapa makanan yang dioksidasitinggi dapat merusak pembuluh darah. Contohnya makanan yang diolah dengan cara dibakar.
-          Suhu
Idealnya, suhu testis adalah 1-2 derajat dibawah suhu tubuh. Suhu yang tinggi disaerah testis dapat memicu pelebaran pembuluh darah balik didaerah tersebut. Awalnya, suhu tinggi ini akan menurunkan kualitas sperma, dan pada tingkat lebih lanjut akan mengganggu fungsi testis dalam menghasilkan sperma.
Kelompok yang berisiko tinggi terkena varikokel adalah pekerja dipertambangan. Juru masak professional, dan mereka yang bekerja didaerah yang memiliki tingkat radiasi tinggi. Hal ini dikarenakan organ reproduksinya cendrung berada pada kondisi dengan suhu diatas rata-rata dalam waktu yang lama.
-          Tekanan tinggi di sekitar perut
Tekanan yang tinggi disekitar perut akan menghambat aliran darah balik, terutama daerah perut sehingga menyebabkan pembuluh darah disekitar testis melebar. Contohnya pada buruh kasar, penyanyi/qori yang teknik pernafasannya tisak benar dan juga orang duduk terlalu lama.
Namun kecendrungan ini tidak bisa disamaratakan pada semua pria. Sebagai contoh seorang kuli  pasarbisa bebas dari varikokelbahkan mempunyai anak lima, sedangkan pria yang selalu menjaga kesehatannya, justru mengidab varikokel grade 4.

                                  gambar 2 : USG Testis untuk mengetahui kelainan pada Buah Zakar

KLASIFIKASI VARIKOKEL
Berdasarkan berat dan ringannya, varikokel dibedakan beberapa tingkatan, yaitu:
Varikokel grade 1
Pada tahap ini  umumnya tidak ada gejala atau tanda yang bisa terlihat dengan jelas, kecuali  melalui pemeriksaan dokter. Biasanya tidak ada keluhan yang berkaitan dengan kesuburan.
Varikokel grade2
Secara umum varikokel grade 2 belum bisa terlihat tanpa pemeriksaan dokter.tebalnya scrotum (kantong testis) juga kerap menjadi factor penghambat. Bila diraba dengan cermat sebenarnya akan teraba vena yang menonjol dan berkelok-kelok. Beberapa orang mengira sebagai urat yang lazim terdapat pada testis. Pada tahap ini bisa terjadi gangguan fertilitas pada sebagian orang.
Varikokel grade3 dan 4
Bisa terlihat dengan mudah saat pria penderita berdiri. Pada kantong buah pelirnya terlihat ada sesuatu yang bengkak yang bila diraba akan tersa seperti ada gulungan urat yang tidak teratur. Keluhan yang biasanya terjadi yaitu rasa pegal, sakit/nyeri disekitar organ reproduksinya.

INDIKASI OPERASI
Varikokel pada dasarnya tidak mengganggu  kemampuan seksual seorang pria. Jadi, meskipun seseorang sudah divonis menderita varikokel grade 4, tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang laki-laki dengan baik. Hanya saja kualitas sperma yang dihasilkan  menjadi kurang baik.
Oleh karena itu besar kecilnya varikokel semata bukan indikasi operasi. Adanya varikokel  yang disertai motilitas spermatozoa yang kurang.hampir selalu dianjurkan untuk operasi. Kira-kira dua pertiga  pria dengan  varikokel  yang dioperasi akan mengalami perbaikan dalam motolitas spermatozoa.
Dengan demikian, seorang laki-laki yang mengidap varikokel grade 4 namun sudah dikaruniai anak, tidak akan dipaksa untuk menjalani operasi. Operasi varikokel  dinamakan varikokelektomi, yaitu membuat sayatan kecil pada perut bagian bawah. Selanjutnya pembuluh darah yang melebar tersebut akan ditarik dan dikumpulkan di suatu tempat yang aman kemudian dikunci dengan alat khusus. Diharapkan suhu didaerah testis akan kembali normal dan menghasilkan sperma dalam jumlah dak\n kualitas yang normal pula.

TIPS MENCEGAH VARIKOKEL
Kemampuan untuk menghasilkan anak merupakan salah satu penopang kepercayaan diri seorang laki-laki. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat  dilakukan guna mencegah terjadinya varikokel yang mengganggu kesuburan pria:
-          Hindari berendam di air panas terlalu sering, karena air panas bisa mempengaruhi  suhu di sekitar  testis hingga merangsang terjadinya pelebaran pambuluh darah.
-          Perbanyak menkomsumsi makanan yang mengandung anti oksidan terutama sayur san buah yang kaya vitamin A,C,E dan zinc
-          Sedapat mungkin menghindari paparan zat kimia, listrik dan radiasi terus menerus.
-          Hindari celana jeans atau celama ketat.



Sumber: Majalah alwaadah, Edisi tahun ke-1 –January 2008

Senin, 02 Mei 2011

Rahim Menekuk Ke Belakang (Retrofleksi)

Rahim retrofleksi adalah letak rahim yang cenderung menekuk ke belakang, ke arah saluran pelepasan. Diperkirakan ada sekitar 30% wanita memiliki rahim retrofleksi. Mayoritas wanita memiliki rahim yang letaknya cenderung ke depan dan condong ke arah perut, yang dinamakan posisi rahim antefleksi.

Penyebabnya:
  • Bawaan sejak lahir, mayoritas kasus rahim retrofleksi merupakan kondisi yang sudah dibawa sejak lahir. Beberapa ahli menyatakan bahwa hal ini kemungkinan ada hubungannya dengan faktor genetik atau keturunan.
  • Pemijatan, apabila tidak dilakukan secara berhati-hati, pemijatan di sekitar daerah perut dapat berisiko mengubah posisi rahim.
  • Kehamilan. Semasa hamil, otot-otot di sekitar rahim mengendur mengikuti ukuran rahim yang kian membesar. Mengendurnya rahim ini mampu membuat posisi rahim berubah.
  • Gangguan kesehatan. Penyakit radang panggul dan endometriosis bisa menyebabkan posisi rahim retrofkelsi. Penyebabnya, bekas luka atau parut yang terjadi akibat penyakit ini mengakibatkan perlekatan dan menarik rahim ke arah belakang sehingga mengubah posisinya.
Gejalanya. Umumnya tidak timbul gejala apa pun. Kalaupun ada, gejala yang muncul biasanya berhubungan dengan gangguan kesehatan yang dialami oleh yang bersangkutan. Gejala tersebut antara lain adalah:
  • Rasa sakit pada saat berhubungan seks (dyspareunia).
  • Sakit selama periode menstruasi (dysmenorrhea),
  • Nyeri pinggang bagian bawah dan sering terkena infeksi saluran kecing, sulit menahan keinginan untuk berkemih.
  • Rasa sakit pada saat memakai pembalut jenis tampon.
  • Keluhan kesuburan.
Mendeteksinya. Karena posisinya jauh di dalam tubuh, kelainan pada rahim tidak dapat langsung diketahui tanpa dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Deteksi dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik ginekolog, seperti inspekulo atau perabaan. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah dengan teknik USG, baik secara abdominal maupun transvaginal, serta pemeriksaan histerosalpingo, memasukkan cairan khusus ke dalam uterus dan saluran-salurannya. Cairan ini memunculkan warna yang akan tampak pada hasil rontgen.

Berpengaruh pada kesuburan? Secara medis, sebenarnya belum ada bukti bahwa kondisi rahim retrofleksi mampu mempengaruhi kesuburan seseorang. Namun, kondisi rahim yang mengarah ke belakang ini kemungkinan bisa menghambat proses pembuahan. Karena, pada rahim yang letaknya menekuk ke belakang, posisi mulut rahim tidak pada menghadap arah kedatangan sperma. Akibatnya, sperma mesti “berjuang” lebih keras untuk memasuki rahim. Meski demikian, bukan berarti pembuahan tidak mungkin terjadi. Apabila kualitas sperma baik dan mampu bergerak lincah pada akhirnya sel telur akan sukses dibuahi.





sumber : ayahbunda.com




http://download.imaging.consult.com/ic/images/S1933033208701101/gr6a-midi.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDZ5D4rJzUrTc_c_XOT9WwdrmU_a8nXU3JbdHrpY6ud1JS8SmgtRr6KZwLNtiL2yRTCQI3OZn-SK9aK2hpw5KU7Ec5bZG77CwRGLpc0zGUr95mq1bRq_jPNsFTCpWcR-m-qMU0CepxpRYA/s1600/images-image_popup-ans7_tipped_uterus.jpg

Selasa, 26 April 2011

Mens, Tapi Kok Hamil?

Ada sebagian wanita yang tidak menyangka dirinya tengah hamil, karena setiap bulan masih mens. Ada yang masih mens setelah kehamilan berjalan tiga bulan, ada pula yang masih mengeluarkan darah hingga bulan kesembilan. Mereka baru tahu bahwa dirinya hamil karena mengalami gejala-gejala kehamilan. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Perlu Anda ketahui bahwa karena hormon-hormon kehamilan mencegah ovulasi, perdarahan yang terjadi sebenarnya bukan merupakan periode menstruasi. Kehamilan dan menstruasi tak mungkin terjadi pada waktu bersamaan. Jika Anda hamil dan merasakan tanda-tanda akan menstruasi, artinya Anda mengalami keguguran. Apabila Anda mengalami perdarahan saat hamil, kemungkinan yang terjadi adalah vaginal bleeding, atau perdarahan kehamilan awal. Perdarahan ini biasanya akibat perubahan-perubahan hormon, dan volume darah yang keluar juga tidak seperti saat menstruasi bulanan. Volume darah saat pregnancy bleeding ini dapat bervariasi, bisa hanya berupa bercak-bercak, bisa pula deras seperti saat siklus mens.

Implantation bleeding
Penyebab lain perdarahan saat kehamilan ini adalah apa yang disebut sebagai implantation bleeding. Menurut Dr Marjorie Greenfield, profesor kebidanan dan kandungan di Case School of Medicine dan University Hospitals of Cleveland, perdarahan ini terjadi ketika embryo menempel di dinding uterus. Hal ini umumnya akan terjadi lima hari setelah pembuahan, dan sering dikira menstruasi dini, khususnya jika kita tidak terbiasa mengamati siklus menstruasi.

Implantation bleeding adalah hal yang normal, dan bukan merupakan pertanda problem kehamilan. Masalah sebenarnya adalah karena Anda bisa salah menghitung waktu kelahiran Anda, karena menghitung perdarahan tersebut sebagai perdarahan siklus menstruasi. Kesulitan menentukan kapan bayi lahir tersebut dikarenakan Anda tidak yakin kapan sebenarnya siklus menstruasi yang terakhir.

Sejumlah masalah waktu bisa membantu memberikan perkiraan kapan pembuahan terjadi: apakah ketika Anda melakukan intercourse tanpa menggunakan kontrasepsi, ketika tes kehamilan menunjukkan tanda positif (khususnya jika ada hasil negatif dari pemeriksaan sebelumnya), dan ketika Anda pertama kali mengamati gejala-gejala kehamilan (seperti payudara yang terasa membengkak dan sakit, atau mual-mual). Jika sudah begini, Anda membutuhkan pemeriksaan USG untuk memastikan waktu kelahirannya.



sumber : http://my.opera.com/yumechan/blog/show.dml/4397399






Jumat, 15 April 2011

10 Fakta Mengenai Infertilitas

Anda mungkin telah mencoba sekian lama untuk hamil tetapi belum juga mendapatkan keberuntungan. Agar dapat hamil, ada dua kondisi yang harus dipenuhi, yaitu pasangan harus memiliki kesuburan dan waktu berhubungan badan harus tepat. Bila Anda tidak kunjung hamil, Anda dan pasangan mungkin memiliki masalah kesuburan atau tidak berhubungan seks pada saat yang tepat. Memahami beberapa fakta dasar mengenai fertilitas berikut dapat membantu Anda mengetahui letak masalahnya.

1. Bila pasangan sulit memiliki anak, kesalahan pasti ada pada pihak wanita.

Louise Carbasse ca. 1913 / photographed by Rudolph Buchnerphoto © 1913 State Library of New South Wales | more info (via: Wylio)Salah. Baik pihak laki-laki maupun perempuan bisa memiliki andil terhadap kesulitan memiliki anak. Tiga penyebab utama infertilitas adalah masalah sperma, masalah ovulasi, dan masalah tuba falopi. Sekitar 20% dari semua kasus infertilitas disebabkan oleh pihak laki-laki saja, 40% oleh pihak perempuan saja, dan 10% disebabkan oleh keduanya. Sisanya tidak dapat ditemukan masalahnya.
2. Sperma bisa bertahan hidup sampai beberapa hari.

Benar. Sperma bisa bertahan sampai 5 hari di dalam lingkungan yang tepat, seperti di dalam leher rahim, rahim dan tuba falopi. Itulah mengapa Anda masih bisa hamil meskipun baru berovulasi pada hari ke-5 setelah hubungan seks.

Namun, kebanyakan sperma akan mati dalam 1-2 hari setelah ejakulasi, bahkan di dalam rahim. Dalam lingkungan lain, seperti di vagina, sperma hanya bertahan hidup beberapa jam. Di luar tubuh manusia dan terpapar udara terbuka, sperma akan mati dalam hitungan menit.
3. Orgasme meningkatkan peluang kehamilan.

Salah. Seorang wanita tidak harus mendapatkan orgasme untuk hamil. Bahkan seorang pria pun tidak harus mendapatkan orgasme penuh untuk menghamili istrinya. Dia bisa mengeluarkan cairan sperma ke dalam vagina bahkan sebelum mengalami orgasme (sperma pra-ejakulasi). Ada pendapat yang mengatakan kehamilan akan lebih mudah dicapai jika wanita mendapatkan orgasme, tapi pendapat itu tidak pernah dapat dibuktikan secara meyakinkan.
4. Kesehatan yang prima dapat mencegah penurunan kesuburan karena faktor usia.

Salah. Salah satu mitos yang paling umum adalah bahwa kesehatan yang baik mempertahankan tingkat kesuburan seseorang. Mereka mengira bahwa asalkan mereka merawat diri dengan makan dan berolahraga secara benar, kesuburan mereka tidak akan menurun.

Namun hal itu tidak benar. Kesuburan menurun dengan meningkatnya usia, terlepas dari kondisi kesehatan kita. Pada sebagian besar wanita, kesuburan mulai menurun di pertengahan usia dua puluhan. Seperti terlihat pada grafik di samping, wanita berada pada puncak kesuburan di usia 20 s.d. 24 tahun. Setelah usia tersebut kemungkinan hamil menurun tajam sedangkan kemungkinan infertilitas meningkat tajam. Pria dapat tetap subur untuk waktu yang lebih lama namun kesuburan pria tetap menurun sejalan dengan usia, meskipun kurang dramatis. (Sumber: Management of the Infertile Woman, Helen A. Carcio)

5. Infertilitas tidak dapat diobati atau terlalu mahal untuk diobati.

Salah. Banyak pasangan keliru menilai bahwa mereka tidak subur tanpa pernah berkonsultasi dengan dokter. Mereka berasumsi bahwa tidak ada yang bisa dilakukan atau jika mereka menemui dokter maka biaya pengobatannya akan sangat mahal. Kesalahpahaman ini membuat banyak pasangan tidak mencari nasihat medis terhadap masalah yang mungkin sebenarnya dapat diterapi dengan mudah dan murah. Pada 85-95 % kasus, infertilitas dapat diterapi secara konvensional seperti obat-obatan dan bedah koreksi atas organ reproduksi.

Jika Anda belum hamil setelah satu tahun mencoba untuk hamil, Anda memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur atau memiliki grafik suhu basal tubuh tanpa ovulasi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter. Beberapa jenis terapi kesuburan memang mahal, tetapi banyak yang tidak.
6. Peluang kehamilan Anda sangat kecil jika Anda hanya berhubungan seks setelah ovulasi.

Benar. Untuk meningkatkan peluang kehamilan Anda, Anda harus berhubungan seks secara teratur terutama pada hari-hari subur Anda. Untuk itu, Anda perlu mengetahui cara menghitung hari subur Anda. Anda perlu melakukan hubungan seks secara teratur dua hari sekali di masa subur Anda. Anda boleh saja berhubungan seks setiap hari di masa tersebut, tetapi hal itu tidak meningkatkan peluang kehamilan Anda.
7. Waktu terbaik untuk melakukan hubungan seks adalah pada hari ke-14 dari siklus Anda.

Salah. Waktu terbaik agar cepat menjadi hamil adalah berhubungan seks secara teratur dalam 4-5 hari sebelum dan pada hari ovulasi. Tidak ada hari atau waktu terbaik tunggal untuk berhubungan seks agar Anda dapat hamil.
8. Posisi seks tertentu memberikan peluang yang lebih tinggi untuk hamil.

Benar. Posisi misionaris adalah salah satu posisi seks yang terbaik untuk mendapatkan kehamilan. Posisi misionaris adalah yang paling optimal untuk pembuahan, meskipun Anda bisa mendapatkan kehamilan dengan posisi seks apa pun.

Dalam posisi misionaris tradisional, Anda berbaring di punggung dengan melebarkan kaki dan kedua lutut tertekuk. Suami berada di atas menghadap ke arah Anda. Variasi lain dari posisi ini antara lain adalah Anda mengangkat salah satu atau kedua kaki, dan suami memegangnya atau menempatkan di pundaknya. Posisi misionaris mendukung untuk kehamilan karena vagina miring ke bawah menuju leher rahim, sehingga memudahkan sperma untuk melewati leher rahim dan masuk ke dalam rahim. Selain itu, posisi misionaris memungkinkan penis untuk menembus vagina lebih dalam, sehingga sperma bisa masuk ke leher rahim lebih langsung tepat setelah ejakulasi.

Selain posisi misionaris, posisi masuk dari belakang di mana Anda berlutut atau tengkurap juga memungkinkan sperma terpancar dekat dengan leher rahim.

9. Stres dapat menyebabkan infertilitas.

Benar. Stres berat dapat menunda ovulasi dengan menekan hormon. Jika stres Anda memengaruhi kualitas pekerjaan atau kehidupan Anda, kesuburan Anda mungkin juga terpengaruh. Namun, bila stres Anda masih ringan kesuburan Anda biasanya tidak terpengaruh. Kecuali, tentu saja, bila hal itu membuat Anda jadi enggan berhubungan seks.
10. Gaya hidup tertentu dapat menurunkan kesuburan pria.

Benar. Kebanyakan masalah infertilitas pria adalah karena kualitas atau kuantitas sperma yang buruk. Untuk memproduksi sperma yang baik, testis (buah zakar/biji pelir) harus berada pada suhu optimal yang sedikit lebih rendah daripada suhu tubuh. Itulah mengapa testis menggantung jauh dari tubuh di dalam skrotum (kantung zakar). Pria dengan jumlah sperma rendah disarankan untuk meminimalkan gaya hidup yang dapat membuat testis kepanasan, seperti memakai celana ketat, terlalu lama menempatkan laptop di pangkuan, atau sering menggunakan spa/mandi uap. Merokok dan menggunakan obat-obat psikotropika (seperti: ganja, kokain) juga dapat mengurangi jumlah sperma atau menyebabkan morfologi sperma abnormal.